Panduan Keselamatan Dalam Menggunakan Scaffolding

Panduan Keselamatan Dalam Menggunakan Scaffolding – Fungsi utama dari scaffolding adalah untuk membantu para pekerja konstruksi yang bekerja diketinggian dimana telah ditentukan ketinggiannya. Apabila sedang terdapat pengerjaan dari suatu kontruksi atau pembangunan yang memiliki tingkat kertinggian cukup tinggi maka tidak ada salahnya untuk menggunakan scaffolding atau perancah ini. Dalam menggunakan alat ini memiliki fungsi yaitu untuk menahan manusia serta berbagai material lainnya yang diperlukan dalam konstruksi dengan ketinggian tertentu.

Dengan adanya kedua hal tersebut secara tidak langsung scaffolding memiliki peran aktif dalam menjaga keselamatan kerja bagi para pekerja konstruksi tersebut. penggunaan scaffolding akan membuat para pekerja merasa aman yang akan berujung pada peningkatan produktivitas dan kelancaran sebuah proyek konstruksi bangunan. Dimana dalam pembuatan atau pemasangannya harus memperhatikan standar keselamatan dan kesehatan kerja atau yang dikenal dengan K3.

 

Diketahui bahwa setiap tahunnya banyak pekerja bidang konstruksi yang terluka bahkan tewas yang dikarenakan terjadi kecelakaan scaffolding. Terdapat berbagai penyebab mulai dari kesalahan pekerja sendiri atau bisa juga karena scaffolding tersebut tidak terbuat dengan benar yang dapat mengakibatkan ambur dan membuat jatuh korban.

Oleh karena itu semua pekerja konstruksi haru mengetahui panduan keselamatan apabila dalam pengerjaan konstruksi tersebut menggunakan scaffolding ini. Berikut ini panduan keselamatan yang dapat diterapkan dalama pengerjaan konstruksi dengan menggunakan scaffolding tersebut yaitu:

a) Pemeriksaan Perancah (Scaffolding)

Sebelum semua kegiatan yang bersangkutan dengan scaffolding ini diharuskan untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh seorang ahli atau petugas yang dikhususkan untuk memeriksa perancah atau scaffolding tersebut. berikut ini adalah beberapa aspek yang harus diperiksa pada scaffolding yaitu:

1) Pastikan izin kerja sudah lengkap, biasanya mencakup Job Safety Analysis (JSA), sertifikat scaffolder, dan izin pembuatan perancah

2) Periksa material yang digunakan untuk komponen dan perlengkapan perancah dan pastikan dalam keadaan baik, tidak rusak atau cacat. Harus terbuat dari material khusus yang diizinkan

3) Lakukan pemeriksaan visual pada semua bagian dari perancah, di antaranya bagian fondasi, rangka, lantai kerja, jalan masuk ke lantai kerja dan bagian paling atas dari bangunan perancah. Pastikan tidak berkarat, rusak, cacat, melengkung/ bengkok atau terdapat bagian yang tidak layak

4) Periksa kestabilan bangunan perancah

5) Periksa semua pengunci atau clamp berfungsi baik

6) Pastikan area untuk penempatan anchor pada full body harness minimum setinggi pinggang.

7) Pastikan semua risiko jatuh sudah dikendalikan dengan baik, misalnya dengan memasang railing-railing yang diperlukan

8) Pastikan perancah sudah diberi pengaman atau alat-alat pengaman yang diperlukan

9) Selanjutnya, bila perancah sudah dipastikan aman, pasang scafftag hijau di dekat akses tangga perancah.

 

b) Jenis – Jenis Scafftag

Berikut ini adalah beberapa jenis scafftag yang biasa digunakan pada scaffolding setelah dilakukan pemeriksaan keseluruhan yaitu:

1) Tanda hijau : aman

2) Tanda kuning: aman dengan syarat (perlu tambahan alat pengaman lainnya)

3) Tanda merah: tidak aman (perancah tidak boleh digunakan)

Catatan: Pemeriksaan dari scaffolding ini harus dilakukan sebelum dipasangkan scafftag, sebelum penggunaan awal, setiap minggu saat sedang didirilkan, sebelum digunakan setelah terpapar cuaca buruk dan juga setelah terjadi modifikasi.

c) Syarat Keamanan Perancah (Scaffolding)

Berikut ini adalah syarat – syarat umum dari keamanan suatu perancah atau scaffolding yaitu:

1) Perancah harus diberi lantai papan yang kuat dan rapat

2) Lantai perancah harus diberi pagar pengaman, apabila tingginya lebih dari 2 meter

3) Jalan-jalan sempit, jalan-jalan dan jalan-jalan landasan (runway) harus terbuat dari bahan dan konstruksi yang kuat, tidak rusak dan aman untuk tujuan pemakaiannya

4) Perancah yang sudah dinyatakan aman terpasang scafftag hijau

5) Sudah dilakukan pemeriksaan awal, berkala dan pemeriksaan khusus

6) Perancah harus dipasang jaring pengaman (safety net), apabila tingginya lebih dari 5 meter dan harus dipasang perisai pengaman (protective shield) untuk melindungi kejatuhan material

7) Perancah diletakkan pada fondasi yang kuat dan rata. Permukaan perancah harus mampu menahan berat perancah dan berbagai beban yang akan diletakkan di atasnya. Pekerja bisa memberikan pendukung tambahan bila diperlukan

8) Jangan menggunakan kotak, drum, batu bata atau balok beton sebagai pendukung tambahan perancah

9) Kondisi tanah atau dudukan rata dan pendukung tambahan mampu mendukung beban 4 (empat) kali lipat

10) Perancah harus stabil dan mampu menahan beban yang akan diletakkan di atasnya

11) Lantai kerja, tangga naik, lantai dasar, dan rangka perancah harus dalam keadaan bersih dari minyak, gemuk, lumpur dan bahan lain yang bisa membahayakan pekerja

12) Pekerja, operator perancah, scaffolder harus menggunakan APD yang disyaratkan, termasuk perlengkapan pelindung jatuh

13) Lebar perancah dan lantai kerja harus cukup untuk bekerja dan meletakkan bahan-bahan.

14) Pastikan perancah sudah terpasang toe board, cross bracing pada semua tingkat perancah dan pastikan semua komponen aman

15) Bila bekerja dekat aliran listrik, jarak aman perancah adalah 4,5 meter (horizontal) dan 6 meter (vertikal).

 

d) Saat Menggunakan Perancah (Scaffolding)

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan perancah atau scaffolding tersebut yaitu:

1) Pastikan pekerja sudah mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan perancah yang tepat dan pengendalian bahaya saat bekerja di atas perancah, penggunaan alat pelindung jatuh, dan apa yang harus dilakukan apabila ada perubahan pada tempat kerja atau jenis perancah.

2) Scaffolder atau pengawas memeriksa dan memastikan perancah dalam kondisi aman sebelum digunakan

3) Lantai kerja, bagian deck, dan pagar pengaman sudah terpasang dan dalam kondisi aman

4) Gunakan alat bantu untuk memindahkan material dari bawah ke atas

5) Gunakan tangga yang sudah terpasang kuat dan kokoh untuk naik dan turun dari perancah

6) Gunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sepatu keselamatan dan full body harness.

7) Perhatikan rekan kerja yang bekerja di atas atau di bawah Anda setiap saat. Jika Anda melihat ada hal yang tidak sesuai prosedur atau ketidaknormalan pada perancah, hentikan pekerjaan Anda dan laporkan pada atasan.

8) Periksa seluruh komponen alat pelindung jatuh yang digunakan, mencakup harness (webbing, D-ring, buckle), lanyard, dan lifeline.

9) Jangan membawa barang berlebih saat menaiki perancah

10) Jangan menggunakan pengait silang (cross bracing) saat naik/ turun dari perancah

11) Jangan bekerja di atas perancah saat cuaca buruk

12) Jangan menyimpan bahan atau peralatan pada pagar pengaman.

13) Jangan bekerja dekat jalur aliran listrik kecuali Anda terlatih dan berwenang melakukannya.

Catatan:

– Amankan semua bahan atau peralatan dari lantai kerja sebelum memindahkan perancah.

– Gunakan pengunci roda setiap saat bila perancah tidak sedang bergerak berpindah.

– Tidak ada seorang pun yang menaiki perancah saat sedang bergerak dipindahkan.

– Dilarang memasang, membongkar, atau meninggikan perancah kecuali mendapatkan izin dan diawasi oleh pengawas yang berwenang.

Dilarang menggunakan perancah yang belum diberi scafftag hijau.

 

demikian artikel kali ini yang membahas mengenai panduan keselamatan dari penggunaan perancah atau scaffolding tersebut mulai dari pemeriksaan, jenis – jenis scafftag yang digunakan, syarat keamanan serta hal penting saat menggunakannya. Semoga informasi kali ini dapat membantu anda untuk mengetahui berbaga cara aman dalam penggunaan scaffolding tersebut.

You might also like