Menghitung Koefisien Dasar Bangunan


Koefisien Dasar Bangunan – Sebagai mahasiswa arsitektur ada banyak sekali ilmu yang harus dipelajari. Salah satunya adalah tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Bagi Anda yang sudah berkecimpung di dunia konstruksi mungkin sudah tidak asing dengan istilah tersebut.

Akan tetapi jika belum tidak perlu bingung. Pada materi kali ini kami bahas lebih lanjut mengenai Koefisien Dasar Bangunan. Sehingga bisa menjadi wawasan bagi Anda, termasuk yang masih menjadi mahasiswa arsitektur.

Pengertian Koefisien Dasar Bangunan

Koefisien Dasar Bangunan atau KDB adalah angka persentase perbandingan luas seluruh dasar bangunan yang dapat dibangun dengan luas lahan yang tersedia. Sehingga dapat diartikan bahwa KDB merupakan batas maksimal lahan yang boleh digunakan untuk dibangun dalam suatu tapak atau site. KDB menjadi peraturan yang menentukan seberapa besar luas lantai dasar bangunan yang boleh dibangun.

Selain KDB juga ada KLB atau Koefisien Lantai Bangunan. Keduanya dibutuhkan untuk beberapa hal, seperti:

  • Pengaturan penghawaan dan pencahayaan alami
  • Menjaga peresapan air ke dalam tanah tetap berlangsung dengan baik
  • Menciptakan keserasian tatanan massa dan ruang terbuka suatu lingkungan

Koefisien Dasar Bangunan ditentukan sebagai bagian luas ruangan beratap yang mempunyai dinding lebih dari 1,2 meter dan juga proyeksi bangunan. Untuk diketahui proyeksi bangunan adalah ruang terbuka di lantai dasar yang berada di bawah bangunan atau unsur bangunan.

Jika luas proyeksi dinding yang mempunyai tinggi tidak lebih dari 1,2 meter, maka KDB dihitung 50%. Dengan catatan tidak melebihi 10% nilai KDB yang sudah ditetapkan. Apabila luas proyeksi lebih dari 10%, maka KDB akan dihitung 100%. Ketentuan ini juga berlaku untuk ramp sirkulasi kendaraan maupun tangga atap terbuka.

Perlu dicatat, nilai KDB suatu wilayah dengan wilayah lainnya bisa berbeda-beda. Perbedaan nilai KDB di masing-masing daerah ini dikarenakan beberapa hal. Seperti adanya perbedaan peruntukan lahan dan lokasi daerahnya.

Nilai KDB yang ada di daerah perkotaan akan berbeda dengan nilai KDB di daerah pinggiran kota. Selain itu nilai KDB di kawasan industri tentunya juga berbeda dengan nilai KDB di kawasan komersial.