Perbaki kinerja, Bank Tabungan Negara (BBTN) memperkuat manajemen risiko

HargaPer.com – Murah &Terbaik JAKARTA.  Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tutup di Rp 1.280 pada akhir perdagangan Jumat lalu (6/2), turun 3,03%.  Namun sepekan, saham bank BUMN ini melonjak 4% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya.

Kinerja pekan pertama Februari ini sekaligus menorehkan posisi harga akhir pekan tertinggi sejak awal 2026. Investor asing  tercatat net buy Rp 61,6 miliar.

Menurut data RTI, aksi beli bersih asing ini menggenapkan catatan inflow enam pekan beruntun dengan kumulatif net buy Rp 228,8 miliar year to date (ytd).  Jika dihitung dari posisi September 2025, atau enam bulan sebelumnya, net foreign buy bahkan mencapai Rp 332 miliar.

Dari sisi kinerja, bank spesialis properti itu memang berupaya berbenah. BTN  menargetkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) untuk pertama kalinya dapat dijaga di bawah 3% pada 2026 ini.

Target tersebut didukung penguatan manajemen risiko dari hulu hingga hilir, mulai dari seleksi kredit, proses persetujuan, hingga penagihan.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan terdapat tiga strategi utama yang diterapkan perseroan untuk menjaga kualitas kredit tetap sehat.

Peluang Cuan Saham Bank BUMN Usai IHSG Anjlok: Ini Target Harganya!

Pertama, penguatan seleksi awal atau initial screening terhadap pengajuan kredit. BTN kini lebih selektif dalam memproses aplikasi kredit agar sesuai dengan profil risiko nasabah maupun calon debitur.

Kedua, dari sisi proses, BTN telah menerapkan sistem loan factory yang tersentralisasi dan didukung otomatisasi berbasis teknologi. Bank memanfaatkan artificial intelligence (AI) dan decision engine dengan scoring model untuk menstandarkan proses persetujuan kredit.

“Sekarang sekitar 80% proses KPR BTN sudah terautomasi. Keputusan kredit tidak lagi dilakukan secara manual oleh individu, tetapi menggunakan sistem,” jelas, Rabu (4/2)

Ketiga, penguatan sisi penagihan. BTN kini menerapkan sistem penagihan yang juga tersentralisasi, termasuk penggunaan GPS tracker untuk memantau produktivitas tim penagih. Selain itu, bank menerapkan collection score dan pengelompokan debitur berdasarkan cluster guna meningkatkan tingkat keberhasilan penagihan.

Pada Jumat pekan lalu, mayoritas emiten BUMN memang menurun. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta memandang penurunan pada saham emiten bank BUMN terpengaruh oleh IHSG yang sempat melemah karena dinamika pasar dan perubahan sentimen. 

Menurutnya selama penurunan tidak signifikan, koreksi pada harga-harga saham tersebut masih terbilang wajar. “Yang terpenting, penurunannya tidak signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2). 

Di sisi lain, ia menilai dinamika ini justru menunjukkan sektor perbankan, khususnya bank BUMN masih bersifat defensif. Sementara itu, ia juga memproyeksikan pergerakan harga saham emiten bank BUMN ke depan.  BBTN misalnya, menurut dia masih memiliki potensi kenaikan, meskipun dengan pergerakan yang terbatas. Target harga hingga Rp 1.305.

Ia merekomendasikan accumulative buy untuk emiten bank BUMN Sementara bagi investor yang sudah memegang saham, ia tidak menyarankan aksi lain selain terus berfokus pada manajemen risiko.

You might also like