Kemenkeu catat investasi kuartal IV 2025 tumbuh 6,12 persen

KEMENTERIAN Keuangan mencatat pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kuartal IV 2025 mencapai 6,12 persen year on year (yoy). Sepanjang 2025, PMTB tumbuh 5,09 persen. Pemerintah menilai capaian ini mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi, terutama di sektor industri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan investasi ditopang lonjakan investasi mesin dan perlengkapan yang tumbuh 17,99 persen pada 2025. Menurut dia, peningkatan tersebut mengindikasikan ekspansi aktivitas industri.

“Investasi kendaraan juga tumbuh 5,16 persen seiring meningkatnya aktivitas impor untuk mendukung logistik,” kata dia dalam keterangan resmi, dikutip Ahad, 8 Februari 2026.

Purbaya menyebut stabilitas makroekonomi serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter turut menjaga kepercayaan investor. Hal itu tercermin dari realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tumbuh 12,66 persen sepanjang 2025.

Pemerintah menilai belanja modal pemerintah dan badan usaha milik negara ikut mengungkit investasi swasta, khususnya melalui operasional Badan Pengelola Investasi Danantara. Secara keseluruhan, kinerja tersebut dinilai memperkuat struktur modal nasional guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi tinggi.

Dari sisi eksternal, kinerja ekspor barang dan jasa riil pada kuartal IV tumbuh 3,25 persen (yoy) dan meningkat 7,03 persen secara tahunan. Peningkatan ekspor terutama bersumber dari minyak hewan dan nabati, besi dan baja, serta mesin dan peralatan elektronik. Ekspor jasa juga menguat seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara yang tumbuh 12,5 persen.

Di sisi lain, impor barang dan jasa riil tumbuh 3,96 persen pada kuartal IV (yoy) dan 4,77 persen secara tahunan. Pertumbuhan impor terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan barang modal pendukung aktivitas produksi.

Dari sisi produksi, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan 5,40 persen (yoy) pada kuartal IV dan 5,30 persen sepanjang 2025. Pemerintah menilai kinerja ini sejalan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang terus berada di zona ekspansif. Selain permintaan domestik yang kuat, pulihnya permintaan global turut berkontribusi, terutama pada subsektor strategis berbasis hilirisasi dan penguatan daya saing industri.

Industri makanan dan minuman tumbuh 6,38 persen pada 2025, didorong peningkatan produksi Crude Palm Oil dan produk turunannya. Sementara itu, industri logam dasar mencatat pertumbuhan 15,71 persen seiring kuatnya permintaan ekspor besi dan baja. Industri mesin dan perlengkapan tumbuh 13,98 persen, sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik dan global.

Sektor perdagangan, kata Purbaya, tumbuh 6,07 persen pada kuartal IV dan 5,49 persen sepanjang tahun, ditopang pasokan barang domestik dan impor untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan dunia usaha.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 5,14 persen (yoy) pada kuartal IV dan 5,33 persen sepanjang 2025. Pertumbuhan terutama berasal dari subsektor tanaman pangan yang tumbuh 9,94 persen pada 2025, didukung peningkatan produksi padi dan jagung. Sektor peternakan juga tumbuh 7,78 persen seiring meningkatnya produksi telur dan daging ayam, antara lain untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah mencatat pemangkasan 145 regulasi distribusi pupuk turut menopang kinerja sektor ini.

Sektor yang berhubungan dengan mobilitas masyarakat menunjukkan kinerja kuat. Sektor Transportasi tumbuh 8,98 persen (yoy) pada kuartal IV dan 8,78 persen sepanjang 2025. Sektor akomodasi dan makan minum juga tumbuh tinggi, masing-masing 7,15 persen pada kuartal IV dan 7,41 persen sepanjang tahun.

Pemerintah mengaitkan penguatan ini dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, khususnya pada periode libur Natal dan Tahun Baru, yang didukung stimulus diskon tarif angkutan serta peningkatan jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara.

Sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan 8,09 persen (yoy) pada kuartal IV dan 8,35 persen sepanjang tahun. Pertumbuhan didorong peningkatan trafik komunikasi data, kebutuhan bisnis, serta kenaikan penetrasi internet. Adapun sektor Pertambangan menjadi satu-satunya sektor yang terkontraksi, masing-masing 1,31 persen (yoy) pada kuartal IV dan 0,66 persen sepanjang 2025.

Pemerintah menyebut kontraksi dipengaruhi keberlanjutan kebijakan hilirisasi dan penurunan harga komoditas.

Pilihan Editor: Bagaimana Trik Emiten Menggoreng Saham

You might also like