IHSG ambruk hampir 8 persen sepekan, analis: waktu tepat lirik saham murah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tajam sepanjang pekan 2-6 Maret 2026. Di tengah meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah, indeks saham acuan domestik itu anjlok hampir 8% dalam sepekan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan IHSG ditutup di level 7.585,687 pada akhir perdagangan pekan ini, merosot 7,89 persen dibandingkan posisi 8.235,485 pada pekan sebelumnya.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan pelemahan pasar saham juga tercermin dari turunnya kapitalisasi pasar bursa.

“Kapitalisasi pasar BEI turut anjlok sebesar 7,85 persen menjadi Rp 13.627 triliun dari Rp 14.787 triliun pada pekan sebelumnya,” kata Kautsar dalam keterangannya, Sabtu (7/3).

Selain itu, aktivitas perdagangan turut melemah. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,33 persen menjadi 2,73 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,95 juta kali. Sementara rata-rata nilai transaksi harian merosot 16,64 persen menjadi Rp 24,97 triliun dari Rp 29,95 triliun pada pekan sebelumnya.

Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto menilai konflik tersebut kemungkinan tak berlangsung terlalu lama dan dampaknya terhadap harga minyak berpotensi mereda dalam beberapa bulan ke depan.

“Ya, kalau dari kita sih memang memandang, ya, untuk tensi geopolitik yang tinggi, ya, seperti yang terjadi di Timur Tengah antara Iran dengan Israel dengan Amerika seharusnya, ya, tidak lama-lama, ya,” ujar Myrdal kepada kumparan, dikutip Minggu (7/3).

Gunarto memperkirakan eskalasi konflik kemungkinan berlangsung kurang dari tiga bulan. Menurutnya, lonjakan harga minyak juga takkan bertahan lama karena faktor permintaan global, khususnya dari China.

“Harusnya perkembangan ini kurang dari 3 bulan lah dan untuk lonjakan harga minyak juga kalau terlalu lama juga justru kita sih lihat, ya, untuk demand atau buyer utama dari minyak ini, kan, biasanya dari China,” jelasnya.

Dia melanjutkan, perlambatan ekonomi China membuat negara tersebut kemungkinan tidak akan nyaman dengan harga minyak yang terlalu tinggi.

Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, Gunarto menyarankan investor untuk tidak terlalu berorientasi pada pergerakan jangka pendek.

“Terus kalau untuk dari IHSG memang fluktuatif sih memang tidak mau investor harus memiliki orientasi investasi jangka pendek sih kalau untuk kondisinya sekarang,” ucap Gunarto.

Menurutnya, pelemahan pasar saat ini justru bisa dimanfaatkan investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham valuasi murah tetapi berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat.

“Terkecuali mereka yang ingin melakukan investasi jangka panjang mungkin kondisi sekarang ini menjadi waktu yang tepat bagi mereka untuk melakukan aktivitas investasi bagi emiten-emiten yang berkategori kapitalisasi besar tapi fundamentalnya bagus dan valuasinya murah,” ungkap Gunarto.

“Nah, kalau untuk melakukan aksi investasi periode jangka pendek jangka menengah panjang saya rasa timing yang tepat, ya,” sambungnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyarankan investor tetap selektif dalam memilih saham di tengah volatilitas pasar.

Nafan menekankan beberapa strategi yang perlu diperhatikan investor, yakni fokus pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi murah.

“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah, fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin,” ucap Nafan.

Menurut Nafan, sentimen pasar global juga mulai membaik setelah pelaku pasar merespons positif data ekonomi AS, khususnya dari pasar tenaga kerja dan sektor jasa.

Dia menilai sentimen tersebut berpotensi membantu meredakan tekanan terhadap pasar saham domestik.

“Semestinya hal ini dapat mengurangi outflow asing dan tekanan bagi IHSG di tengah terjadinya downgrade outlook kredit Indonesia dari Fitch Ratings dan risk-off global akibat perang AS-Iran,” lanjut Nafan.

You might also like