BEI kocok ulang Indeks Kompas 100, mana saham yang prospektif?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi melakukan peninjauan ulang komposisi indeks Kompas 100 dengan periode konstituen yang berlaku efektif mulai 2 Februari 2026 hingga 31 Juli 2026.

Dalam rebalancing kali ini, sebanyak 17 saham baru ditetapkan masuk ke dalam jajaran indeks Kompas 100.

Berikut daftar saham yang masuk indeks Kompas 100:

  1. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
  2. PT Sentul City Tbk (BKSL)
  3. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  4. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)
  5. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)
  6. PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)
  7. PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)
  8. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
  9. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
  10. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
  11. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
  12. PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)
  13. PT Sumber Global Energy Tbk (SGER)
  14. PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL)
  15. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)
  16. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
  17. PT Wir Asia Tbk (WIRG)

Berikut daftar saham yang keluar indeks Kompas 100:

  1. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)
  2. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)
  3. PT Avia Avian Tbk (AVIA)
  4. PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN)
  5. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
  6. PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)
  7. PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
  8. PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
  9. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)
  10. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)
  11. PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP)
  12. PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN)
  13. PT PP (Persero) Tbk (PTPP)
  14. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR)
  15. PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG)
  16. PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA)
  17. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan masuknya sejumlah saham ke dalam indeks Kompas100 secara umum membawa sentimen positif jangka pendek, terutama dari sisi peningkatan likuiditas dan visibilitas di mata investor, baik ritel maupun institusional. 

Pemerintah Patok Penerbitan SBN Ritel hingga Rp 170 Triliun, Ekonom: Masih Realistis

“Indeks Kompas100 kerap dijadikan acuan oleh fund manager dan produk reksadana indeks, sehingga saham yang baru masuk berpotensi mendapatkan tambahan aliran dana pasif (passive inflow),” kata Alrich kepada Kontan, Selasa (26/1/2026).

Namun demikian, dalam jangka menengah hingga panjang, pergerakan saham tetap akan kembali ditentukan oleh fundamental, prospek bisnis, dan momentum sektor masing-masing emiten, bukan semata status keanggotaan indeks.

Prospek Kompas 100

Alrich memperkirakan kinerja indeks Kompas100 pada 2026 akan bergerak sejalan dengan Indeks Harga saham Gabungan (IHSG), namun dengan volatilitas yang relatif lebih terkendali karena komposisinya didominasi saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah dengan likuiditas tinggi

“Secara sektoral, Kompas100 masih akan ditopang oleh sektor perbankan dan keuangan, energi dan komoditas, serta saham konsumsi dan telekomunikasi,” jelas Alrich.

Selain itu, Alrich menilai dalam kondisi suku bunga global yang cenderung mulai stabil dan potensi penurunan suku bunga dalam 1 tahun hingga 2 tahun ke depan, indeks Kompas100 berpeluang menjadi salah satu penopang utama IHSG, khususnya melalui saham big cap non bank dan komoditas yang bobotnya cukup signifikan.

MBG Jadi Katalis Pendorong Kinerja Japfa (JPFA), Cek Rekomendasi Sahamnya

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menambahkan prospek indeks Kompas 100 didorong oleh transmisi kebijakan moneter yang lebih longgar serta pertumbuhan laba emiten berkapitalisasi besar yang diprediksi meningkat sekitar 8% secara tahunan. 

“Indeks ini akan menjadi motor penggerak utama bagi IHSG untuk menembus level psikologis 9.000 hingga 10.000, mengingat konstituen Kompas100 mewakili mayoritas kapitalisasi pasar dan likuiditas transaksi di Bursa Efek Indonesia,” ucap Abida kepada Kontan, Selasa (26/1/2026). 

Kontribusi signifikan juga diharapkan datang dari operasionalisasi Badan Pengelola Investasi Danantara yang akan menyuntikkan likuiditas baru serta potensi aliran dana masuk dari investor institusi global melalui rebalancing indeks MSCI. 

Dengan dukungan pertumbuhan PDB nasional yang diproyeksikan meningkat ke level 5,1% oleh IMF, Kompas100 berada dalam posisi strategis untuk mengungguli kinerja pasar secara keseluruhan melalui portofolio yang kini lebih terdiversifikasi dan resilien.

Dari daftar konstituen baru, Alrich menilai terdapat sejumlah saham yang relatif lebih menarik untuk investasi jangka panjang.

Pertama, BREN dan CUAN. Emiten di sektor energi dan sumber daya alam ini dinilai masih diuntungkan oleh tren transisi energi serta kebutuhan energi domestik dalam jangka panjang.

Kedua, IMPC. Emiten industri kemasan plastik rigid ini memiliki karakter bisnis defensif dengan basis konsumsi yang stabil, didukung ekspansi ke pasar ekspor.

Ketiga, TOBA yang tengah menjalani transformasi bisnis dari batu bara menuju energi baru terbarukan, sehingga berpotensi menarik bagi investor berorientasi jangka panjang.

Keempat SGER, sebagai emiten perdagangan energi, dinilai berpeluang memperoleh manfaat dari volatilitas harga komoditas serta meningkatnya aktivitas perdagangan global.

IHSG Berpeluang Menguat pada Rabu (28/1), Cek Rekomendasi Sahamnya

Adapun sejumlah emiten lain yang baru masuk indeks KOMPAS 100 cenderung lebih bersifat trading driven, sehingga investor perlu bersikap selektif serta memperhatikan waktu yang tepat.

Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai terdapat sejumlah saham baru di indeks KOMPAS 100 yang layak dicermati untuk investasi jangka panjang, yakni HRTA, CBDK, WIFI, dan INET.

HRTA dinilai unggul berkat kombinasi fundamental yang solid, arus kas yang sehat, serta eksposur terhadap komoditas emas yang masih memiliki prospek positif.

CBDK memiliki daya tarik dari kepemilikan aset riil yang kuat, didukung oleh potensi pendapatan berulang (recurring income) serta skala kawasan yang besar, sehingga memberikan visibilitas pertumbuhan.

Sementara itu, WIFI dipandang sebagai penyedia infrastruktur digital grass-root yang menyasar kebutuhan riil masyarakat. Emiten ini mengembangkan jaringan fiber to the home (FTTH) berbiaya relatif rendah dengan fokus penetrasi ke daerah, serta melayani segmen rumah tangga dan UMKM. 

“Prospeknya bersifat jangka panjang dan struktural, meski membutuhkan waktu mengingat model bisnisnya yang padat belanja modal dengan proses monetisasi yang bertahap,” ujar Liza kepada Kontan, Selasa (26/1/2026).

Adapun INET berperan sebagai tulang punggung Internet Rakyat versi korporasi, dengan menyediakan layanan konektivitas jaringan, interkoneksi, serta solusi infrastruktur digital berbasis B2B. Prospek pertumbuhan INET dinilai cukup besar seiring ekspansi ekonomi digital nasional. Namun demikian, pasar menuntut eksekusi yang cepat serta pembuktian arus kas yang nyata, bukan sekadar narasi pertumbuhan.

Rekomendasi Saham

Abida menyarankan untuk memantau saham BBCA, BMRI, WIFI dan ICBP di target harga masing-masing Rp 10.800, Rp 5.500, Rp 4.400 dan Rp 11.500 per saham.

Alrich merekomendasikan untuk buy on support saham TOBA di target harga jangka pendek Rp 875 per saham dan target harga jangka panjang di level Rp 965 per saham. Ia juga menyarankan stop loss saham TOBA di bawah level Rp 810 per saham.

You might also like