IHSG bergejolak, DPR nilai koreksi dipicu sentimen bukan fundamental ekonomi

JAKARTA, KOMPAS.TV- Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dinilai tidak mencerminkan pelemahan ekonomi nasional. Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, menyebut pergerakan tersebut lebih disebabkan oleh koreksi jangka pendek yang dipicu sentimen pasar.

Marwan menjelaskan, tekanan terhadap IHSG muncul seiring respons investor terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi transparansi data kepemilikan saham dan tingkat free float di pasar modal Indonesia. Kebijakan MSCI yang menunda penyesuaian indeks serta rebalancing disebut bersifat sementara dan teknis.

“Langkah MSCI ini bukan penilaian negatif terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ini lebih kepada peringatan administratif agar tata kelola pasar semakin transparan,” kata Marwan dalam keterangannya yang diterima Kompas.tv, Selasa (27/1/2026).

IHSG Anjlok Dua Hari, OJK Umumkan 3 Reformasi Besar Pasar Modal

Ia menilai, isu tersebut kerap dimaknai berlebihan hingga memicu kekhawatiran yang tidak proporsional di kalangan pelaku pasar. Padahal, MSCI justru membuka ruang bagi otoritas pasar modal nasional untuk melakukan pembenahan.

Di sisi lain, Marwan menegaskan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi dinilai tetap terjaga di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, defisit transaksi berjalan berada dalam batas aman, serta cadangan devisa dinilai memadai. Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih tergolong rendah.

“Tidak ada faktor fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG secara tajam. Situasi ini lebih tepat dibaca sebagai dinamika pasar yang sedang menguji ketahanan, bukan sinyal melemahnya perekonomian,” ujarnya.

Marwan juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti rekomendasi MSCI, khususnya terkait peningkatan transparansi dan penguatan tata kelola pasar modal.

Menkeu Purbaya Respons IHSG Anjlok 8 Persen: Soroti Kebijakan MSCI & Goreng-Goreng Saham

Ia pun mengimbau investor agar tetap menjaga perspektif jangka menengah dan panjang dalam menyikapi fluktuasi pasar. Menurutnya, stabilitas dan kredibilitas pasar modal tidak dibangun melalui reaksi emosional, melainkan melalui kepercayaan yang berbasis data dan kebijakan berkelanjutan.

“Pasar tidak membutuhkan kepanikan. Dengan fondasi ekonomi yang tetap kuat serta komitmen reformasi yang konsisten, pasar modal Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh semakin matang dan dipercaya,” tutup Marwan.

You might also like