Saham ANTM dan BRMS diprediksi lanjut menguat, cek target harga baru

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas spot berhasil cetak harga tertinggi usai menembus level US$ 4.600 per ons troi untuk pertama kalinya pada Senin (12/1) pagi. 

Melansir Bloomberg, harga emas spot ditutup menguat Harga emas spot ditutup menguat 1,95% ke US$ 4.597,51 per ons troi. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh rekor US$ 4.600,33 per ons troi.

Mengekor pergerakan emas global, harga emas batangan bersertifikat Antam produksi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut melonjak pada Senin (12/1/2026) dan mencatatkan rekor tertinggi baru.

Berdasarkan situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.631.000, melonjak Rp 29.000 jika dibandingkan dengan harga pada Sabtu (10/1/2026) yang berada di level Rp 2.602.000 per gram.

Di tengah penguatan harga emas global, pergerakan harga saham emiten emas domestik pun kompak menghijau hingga akhir perdagangan Senin (9/1/2026).

Rupiah Diproyeksi Kembali Melemah pada Hari Ini (13/1), Cek Sentimennya

Misalnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mengalami lonjakan harga paling tinggi di antara saham produsen emas lainnya dengan penguatan 16,39% ke level Rp 2.770 per saham. Diikuti, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang menguat 7,04% ke Rp 2.890 per saham, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mendaki 5,6% ke posisi Rp 1.790 per saham.

Kemudian, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 5,51% ke Rp 3.830, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga menguat 2,44% ke level Rp 1.260 per saham, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) meningkat 1,67% ke Rp 610 per saham dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik tipis 0,93% ke Rp 5.400 per saham.

Investment Analyst Stockbit Theodorus Melvin mengatakan kenaikan harga emas berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten produsen emas seperti BRMS, ARCI, EMAS, MDKA, PSAB dan ANTM.

“Ini berpotensi meningkatkan harga jual rata–rata (ASP) dan margin laba perseroan,” kata Theodorus dalam risetnya, Senin (12/1/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda melihat prospek emiten emas masih cukup positif, seiring dengan tren kenaikan harga emas global yang didukung oleh faktor fundamental yang kuat. 

Melemahnya data ekonomi Amerika Serikat, khususnya nonfarm payrolls yang hanya tumbuh sekitar 50 ribu, semakin memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserves (The Fed) akan mulai memangkas suku bunga tahun ini. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah ini secara historis sangat mendukung harga emas sebagai aset non yielding.

Di sisi lain, meskipun dolar AS relatif masih bertahan kuat, harga emas tetap mampu mencetak rekor baru. Ini menunjukkan bahwa permintaan emas saat ini tidak semata dipengaruhi oleh pergerakan dolar, tetapi juga oleh meningkatnya kebutuhan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Investor Bisa Eksekusi Trailing Stop Bertahap  

“Ditambah lagi, ketegangan geopolitik seperti isu Venezuela dan Iran, serta pembelian emas yang konsisten oleh bank sentral China selama 14 bulan berturut-turut, menjadi penopang struktural bagi harga emas ke depan,” kata Reza kepada Kontan, Senin (9/1/2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengamini prospek emiten emas masih dinilai menarik seiring harga emas global yang berada dalam tren menguat dan mencetak rekor baru. 

Ketegangan geopolitik global, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, mendorong investor untuk tetap menempatkan dana pada aset safe haven seperti emas. Selain itu, di dalam negeri, harga emas juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

“Ketika rupiah melemah, harga emas domestik cenderung ikut naik, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi kinerja emiten emas,” ujar Hari kepada Kontan, Senin (9/1/2026).

Disamping itu, Hari berpandangan saham produsen emas masih memiliki prospek positif karena kenaikan harga emas secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan dan margin keuntungan. 

Emiten dengan biaya produksi yang efisien, struktur keuangan yang sehat, serta cadangan emas yang memadai berpeluang mencatat kinerja lebih unggul. Selama harga emas global mampu bertahan di level tinggi, saham-saham produsen emas diperkirakan tetap menarik dan berpotensi melanjutkan tren penguatan, meskipun dengan volatilitas yang perlu diantisipasi.

Adapun Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su berpendapat kenaikan saham emiten emas juga merupakan imbas positif dari kenaikan komoditas emas. Hal itu karena ekspektasi laba bersih emiten emas diperkirakan akan melanjutkan tren positifnya. 

“Emiten-emiten emas Indonesia diperkirakan akan terus melanjutkan tren positifnya didorong harga emas yang masih dalam uptrend mengikuti ekspektasi pemangkasan suku bunga pada tahun depan dan ketegangan geopolitik internasional,” terang Harry kepada Kontan, Senin (9/1/2026).

Jual di Harga Pucuk, Pengendali Diamond Citra (DADA) Kantongi Cuan Rp 38,40 Miliar

Cuma, Hari bilang investor perlu mencermati risiko jangka pendek, terutama potensi aksi ambil untung setelah reli harga emas yang cukup agresif. Ketidakpastian geopolitik yang menjadi pendorong utama saat ini juga bersifat dinamis dan sulit diprediksi kapan mereda.

Sementara itu, Reza menambahkan meski outlook emas masih positif, investor tetap perlu mencermati beberapa risiko. Pertama, risiko perubahan ekspektasi kebijakan moneter global, khususnya jika penurunan suku bunga The Fed tertunda atau tidak seagresif yang diperkirakan pasar. Kedua, potensi penguatan dolar AS yang lebih signifikan juga dapat menekan harga emas dalam jangka pendek.

Tak hanya itu, reli harga emas yang cukup tajam berpotensi memicu aksi ambil untung, sehingga volatilitas harga tetap perlu diantisipasi. 

“Untuk saham emiten, risiko operasional dan fluktuasi biaya produksi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, sehingga investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko yang disiplin,” tambah Reza.

  BRMS Chart by TradingView  

Reza melihat secara teknikal saham ANTM masih terdapat potensi penguatan jangka pendek seiring dengan tren emas yang solid. Dalam jangka pendek, ANTM berpeluang bergerak menuju area resistance Rp 3.920 hingga Rp 4.100, selama mampu bertahan di atas area support kunci.

Selain faktor harga emas, ANTM juga memiliki katalis jangka menengah berupa potensi masuk ke dalam indeks MSCI pada 2026, yang berpotensi mendorong aliran dana asing dan meningkatkan likuiditas saham.

Sementara itu, Harry menyarankan buy saham ANTM dan BRMS di target harga masing-masing Rp 4.600 dan Rp 1.300 per saham.

You might also like