January effect membuka peluang IHSG bergerak positif

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar saham global yang cenderung positif di awal 2026 membuka ruang penguatan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Januari 2026 atau yang kerap dikenal dengan January Effect.

Meski demikian, volatilitas pasar diperkirakan masih cukup tinggi seiring dinamika global dan rilis data ekonomi penting.

Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai pasar saham Amerika Serikat masih berpotensi melanjutkan tren positif pada 2026, meski diiringi fluktuasi yang lebih besar. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang menopang valuasi saham global.

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat pada Senin (5/1/2026), Cermati Sentimen Penggeraknya

“Di tahun 2026 pasar AS diperkirakan masih akan berlanjut, meskipun dengan tingkat volatilitas yang lebih tinggi. Faktor penopangnya antara lain pertumbuhan laba, kebijakan The Fed yang lebih akomodatif, serta dorongan fiskal yang bersifat ekspansif,” ujar Hans kepada Kontan, Minggu (4/1/2026).

Hans menambahkan, pertumbuhan laba perusahaan AS pada 2026 tidak lagi terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Selain itu, Federal Reserve diperkirakan bergerak menuju posisi suku bunga netral dengan potensi dua kali pemangkasan suku bunga pada Maret dan Juni 2026.

Di Eropa, Hans mencatat kinerja pasar saham mencatatkan capaian tahunan terbaik sejak 2021. Menurutnya, penguatan tersebut ditopang oleh kombinasi penurunan suku bunga, komitmen ekspansi fiskal Jerman, serta langkah investor yang mulai mendiversifikasi portofolio dari saham teknologi Amerika Serikat yang dinilai sudah mahal.

“Kinerja bursa Eropa berpotensi berlanjut di 2026, seiring dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang relatif kondusif,” ujarnya.

Sementara itu, untuk pasar saham domestik, Hans menilai IHSG masih memiliki ruang penguatan pada 2026. Sejumlah katalis positif dinilai dapat menopang pergerakan indeks, mulai dari diplomasi dagang Indonesia dengan Amerika Serikat hingga kondisi ekonomi domestik yang relatif solid.

“Pasar saham Indonesia diproyeksikan masih punya ruang naik. Katalisnya antara lain hubungan dagang Indonesia-AS serta ekonomi dalam negeri yang masih cukup kuat,” katanya.

IHSG Diprediksi Sentuh 10.000 di Akhir 2026, Pengamat: Ambisius tapi Masih Realistis

Dari sisi sentimen jangka pendek, Hans menyoroti rilis data inflasi Indonesia yang diperkirakan relatif rendah, serta neraca perdagangan yang diproyeksikan kembali mencatat surplus. Selain itu, pasar juga akan mencermati data tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis pada akhir pekan.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Hans memproyeksikan IHSG berpeluang bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat di awal Januari.

“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di kisaran 8.664 hingga 8.537, dan resistance di level 8.776 sampai 8.800,” tutup Hans.

You might also like