
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten konsumer dari grup Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dipandang positif pada tahun 2026. Ini didukung oleh sejumlah katalis positif.
Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi menilai prospek kinerja emiten kedua emiten itu didukung oleh kombinasi harga bahan baku yang relatif stabil serta tren penurunan suku bunga. Kondisi tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus beban keuangan.
“Ini bisa membuat margin mengalami pemulihan,” kata Wafi kepada Kontan, Jumat (2/01/2026).
Pemulihan daya beli masyarakat segmen bawah seiring stimulus pemerintah juga diyakini dapat menjaga pertumbuhan volume penjualan tetap positif.
Ditopang Segmen Agribisnis, Simak Rekomendasi Saham Indofood (INDF)
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan katalis pendukung kinerja dari kedua emiten grup Salim tersebut ialah turunnya tren harga komoditas bahan baku yang digunakan ICBP dan INDF. Ini berpotensi menjadi katalis positif bagi perbaikan margin laba kedua emiten konsumer tersebut.
Selain itu, Nafan memperkirakan konsumsi domestik akan bergerak lebih stabil dan berpeluang menjadi sentimen positif, seiring dengan dukungan stimulus pemerintah.
Dari sisi kebijakan moneter, Nafan juga berharap Bank Indonesia (BI) dapat mengadopsi kebijakan yang lebih pro growth, khususnya melalui penurunan suku bunga acuan. Menurutnya, pada tahun 2026 BI memiliki ruang untuk menurunkan BI Rate hingga dua kali. Kebijakan moneter ini pada akhirnya dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik.
Meski begitu, Nafan mengingatkan tantangan kinerja emiten konsumer masih datang dari dinamika depresiasi nilai tukar rupiah, yang berisiko menekan margin keuntungan. Oleh karena itu, stabilitas rupiah menjadi faktor kunci agar net profit margin ICBP dan INDF dapat terjaga.
“Yang jelas stabilitas nilai tukar rupiah mesti dijaga. Harapannya rupiah bisa stabil sehingga memberikan keuntungan bagi net profit margin ICBP dan INDF,” kata Nafan kepada Kontan, Rabu (31/12/2025).
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim memperkirakan daya beli masyarakat secara keseluruhan akan meningkat secara bertahap pada tahun 2026, didorong oleh sikap fiskal yang lebih ekspansif, penguatan program bantuan sosial, serta pergeseran kebijakan pemerintah yang lebih mendukung pertumbuhan.
ICBP Jadi Primadona: Ini Daftar Rekomendasi Saham Konsumer di Akhir 2025
Akselerasi fiskal tersebut mencakup perluasan penyaluran bantuan tunai, pengetatan penegakan pajak, serta fleksibilitas anggaran yang lebih besar, disertai peningkatan alokasi untuk perlindungan sosial dan program Makan Bergizi Gratis yang mengindikasikan keberlanjutan dukungan fiskal terhadap konsumsi rumah tangga. Selain itu, penyesuaian upah minimum juga diperkirakan akan memberikan dukungan tambahan terhadap konsumsi.
“Kami menilai seluruh katalis tersebut akan berdampak positif bagi sektor konsumer, meskipun efeknya cenderung bertahap,” tulis Christy dalam riset yang dipublikasikan pada awal Desember 2025 lalu.
Christy juga memproyeksikan emiten konsumer akan membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 5,7% secara tahunan (yoy) pada tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang tumbuh 4,2%. Pertumbuhan ini ditopang oleh perbaikan volume penjualan serta kenaikan harga jual rata-rata yang moderat.
“Kami memperkirakan pertumbuhan volume yang positif bagi sebagian besar emiten seperti ICBP tumbuh 4,1% dan INDF naik 2,8%,” ujar Christy.
Kontribusi ekspor yang lebih besar dinilai dapat menjadi pendorong tambahan pertumbuhan pendapatan bagi emiten konsumer, terutama di tengah pelemahan pasar domestik. Perusahaan dengan eksposur ekspor yang tinggi berpeluang menjaga kinerja penjualan ketika permintaan dalam negeri belum sepenuhnya pulih.
Dari sejumlah emiten yang tercakup dalam pemantauan analis, ICBP menjadi salah satu emiten yang menonjol dibandingkan para pesaingnya berkat porsi ekspor yang relatif lebih besar.
ICBP mampu mencatatkan pertumbuhan volume penjualan mi instan ke pasar luar negeri sebesar 8% yoy. Kinerja ekspor tersebut mampu mengompensasi penjualan domestik yang cenderung stagnan pada kuartal III-2025.
Ke depan, penguatan kontribusi ekspor dinilai akan semakin relevan sebagai penopang kinerja emiten konsumer, seiring ketidakpastian pemulihan konsumsi dalam negeri dan dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
Christy menilai ICBP tetap menjadi pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 11.500 per saham.
Sementara Nafan menyarankan accumulative buy ICBP dan INDF di target harga masing-masing Rp 11.925 dan Rp 7.750 per saham.
Adapun Wafi merekomendasikan buy ICBP di target harga Rp 12.800 per saham dan pantau INDF dengan target harga Rp 7.600 per saham.