BI proyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 meningkat di kisaran 4,9-5,7 persen

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 4,9-5,7 persen.

Proyeksi tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2025 yang diperkirakan akan berada di kisaran 4,7-5,5 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan meningkat karena penopangnya yakni permintaan domestik juga akan mengalami kenaikan.

Kenaikan permintaan domestik itu sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: IMF Revisi Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 5,1 Persen, Naik dari Proyeksi Sebelumnya

“Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat,” ujarnya saat konferensi pers, Rabu (22/1/2026).

Perry menekankan, efektivitas program stimulus pemerintah pada 2026 perlu terus diperkuat, terutama untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, investasi diprakirakan tumbuh lebih tinggi seiring berlanjutnya program prioritas pemerintah, termasuk hilirisasi sumber daya alam (SDA). Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas serta memperkuat kapasitas perekonomian nasional dalam jangka menengah.

“BI terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menambahkan, kondisi perekonomian nasional menunjukkan angka-angka perbaikan sejak Kuartal IV 2025 dan diperkirakan akan berlanjut ke Kuartal I 2026.

“Dua-duanya baik Kuartal IV 2025 maupun Kuartal I 2026, faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut adalah lebih dari domestic demand,” ucap Aida.

Menurut Aida, pertumbuhan ekonomi akan didukung oleh sinergi stimulus BI di bidang moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dengan kebijakan fiskal pemerintah yang akan menopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

“Sehingga kami masih melihat di 2025 ini pertumbuhan ekonomi masih berkisar 4,7-5,5 persen dan di 2026 akan menuju kepada 4,9-5,7 persen,” kata Aida.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3 persen.

Pertumbuhan yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek perekonomian AS membaik didorong investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak.

Pertumbuhan ekonomi Jepang, China, dan India pada 2026 diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi kecerdasan buatan (AI) yang juga meningkat.

Baca juga: Angka Kelahiran China Turun, Anak Muda Tunda Nikah karena Ekonomi?

You might also like