
DIREKTUR PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga logam mulia bisa menyentuh Rp 2.700.000 per gram jika harga emas dunia menguat di level US$ 4.655 per troy ounce pada resistance pertama perdagangan pekan depan.
Sementara itu, Ibrahim memperkirakan harga logam mulia bisa menyentuh Rp 2.820.000 per gram jika harga emas dunia menguat senilai US$ 4.706 per troy ounce pada resistance kedua perdagangan pekan depan. “Ada kemungkinan besar harga logam mulia itu di Rp 2.820.000,” kata Ibrahim pada Ahad, 18 Januari 2026.
Seandainya terkoreksi, ia memperkirakan harga logam mulia berada di level Rp 2.638.000 per gram jika harga emas dunia melemah ke level US$ 4.553 per troy ounce pada rentang support pertama perdagangan pekan depan. Apabila kembali melemah, Ibrahim memperkirakan harga logam mulia turun di level Rp 2.560.000 per gram jika harga emas dunia anjlok ke level US$ 4.489 per gram.
Sementara untuk indeks dolar, Ibrahim memperkirakan level support berada di US$ 99.167 pada Senin, 19 Januari 2026. Adapun level support kedua indeks dolar jika menguat berada di US$ 98.934. Sementara itu perkiraan level resistance pertama adalah US$ 99.541 sedangkan level resistance kedua di US$ 99.768.
Lalu untuk nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026 ditutup Rp 16.896 per dolar AS. Seandainya rupiah menguat, Ibrahim memprediksi support pertama pada Rp 16.876 per dolar AS sedangkan support kedua adalah Rp 16.840 per dolar AS.
Jika melemah, Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah pertama berada di Rp 16.920 per dolar AS sedangkan pelemahan dalam satu pekan kemungkinan besar di Rp 17.100 per dolar AS.
Pemicu Fluktuasi Harga Emas dan Rupiah
Menurut Ibrahim, ada lima faktor yang memengaruhi fluktuasi harga emas dunia hingga rupiah. Pertama adalah keberlanjutan perang dagang. Ia menyoroti sikap Uni Eropa yang menerapkan bea dumping terhadap produk Cina hingga sikap Amerika Serikat menerapkan tarif impor 20 persen terhadap Eropa karena enggan menyerahkan Greenland ke negara Abang Sam.
Faktor kedua adalah kondisi politik Amerika Serikat. Menurut Ibrahim, kondisi politik Amerika terus memanas terlebih karena Jaksa Agung memanggil Gubernur The Fed Jerome Powell terkait dengan permasalahan bank sentral.
Ibrahim juga menyoroti keadaan geopolitik mulai dari perang antara Ukraina dan Rusia hingga ketakutan Eropa akan Presiden AS Donald Trump yang ingin menguasai Greenland. Selain itu, situasi di Timur Tengah yakni sikap Iran menutup wilayah udara yang mengindikasikan kesiapan berperang sehingga kembali memunculkan ketegangan.
Faktor keempat adalah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat tentang suku bunga. Ibrahim mengatakan ada kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga pada April mendatang. Meski begitu, Ibrahim mengatakan ada juga sebagian pimpinan yang mempertahankan suku bunga tinggi.
Pemicu fluktuasi terakhir adalah kondisi supply and demand. Ibrahim mengatakan kondisi geopolitik membuat Bank Sentral Global membeli logam mulia secara besar-besaran karena menganggap situasi yang terjadi sebagai kondisi gawat. “Bank Sentral Tiongkok, Bank Sentral India, Afrika Selatan, Amerika Latin, ASEAN pun juga berlomba-lomba melakukan pembelian terhadap logam mulia. Itu lah yang membuat harga emas dunia terkerek naik,” kata dia.
Pilihan Editor: Mengapa Stimulus Ekonomi Tak Cukup Mendongkrak Daya Beli