
HargaPer.com – Murah &Terbaik – JAKARTA. Investor domestik terpantau memanfaatkan momentum derasnya arus keluar asing di saham perbankan.
Merujuk data KSEI hingga Januari 2026, kepemilikan domestik dan asing di saham perbankan terpantau bergerak dalam tren serupa. Yang mana, kepemilikan domestik mengalami lonjakan sementara asing menurun dalam setahun.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan peningkatan kepemilikan domestik paling tinggi, yakni mencapai 55,78% secara tahunan. Menyusul, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat pertumbuhan sebesar 27,69% yoy, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 21,09% yoy, dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 12,17% yoy.
BCA Catat Outstanding Pinjaman Konsumer Lainnya Rp 20,3 triliun pada Desember 2025
Sementara itu, penurunan kepemilikan asing di BBCA mencapai 10,41% yoy, BBNI sebesar 11,28% yoy, BMRI sebesar 11,94% yoy, dan BBRI sebesar 6,20% yoy.
Jika melihat laporan tahunan BCA dan BNI, hingga akhir tahun lalu komposisi investor domestik individu dan institusi memang kompak naik. Di BNI, bahkan komposisi kepemilikan institusi lokal mencapai 68,58%, melejit dari 7,66% pada tahun 2024.
Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut, pertumbuhan kepemilikan domestik yang masif di saham perbankan mencerminkan pergeseran struktur investor di pasar modal Indonesia. Menurutnya, itu sebuah sinyal dominasi peran domestik dalam menopang saham bank-bank besar alias big banks.
Hendra bilang ada sejumlah hal yang mendorong investor domestik gencar masuk ke saham perbankan, di antaranya terkait valuasi harga yang menarik dan ditopang fundamental solid. Situasi itu juga didukung likuiditas domestik yang sedang besar.
“Institusi lokal butuh instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi dari obligasi tetapi tetap memiliki risiko terukur. Saham bank besar memenuhi kriteria itu,” ujar Hendra kepada Kontan, Senin (23/2/2026).
Di sisi lain, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer bilang pergeseran dominasi kepemilikan domestik di saham perbankan pada dasarnya terjadi karena investor asing cenderung wait and see di tengah ketidakpastian global dan arah suku bunga.
Selagi harga murah karena investor asing kabur, investor domestik melihat fundamental perbankan masih kuat dengan laba yang relatif stabil, modal tebal, dan dividen konsisten. Dus, itu dianggap kesempatan akumulasi di harga yang lebih rasional.
Penyaluran Kredit Multiguna Bank BPD DIY Capai Rp4,51 Triliun pada Januari 2026
Dari sisi keuntungan, Miftahul bilang institusi domestik bisa menikmati imbal hasil dividen dan potensi kenaikan jangka menengah sambil menjaga likuiditas portofolio. “Namun risikonya tetap ada jika pertumbuhan kredit melambat atau tekanan ekonomi meningkat.” katanya.
Senada, Analis BRI Danareksa Abida Massi Armand bilang perlambatan pertumbuhan kredit yang bakal mempengaruhi margin dan laba menjadi katalis pemberat saham perbankan. Selain itu, ia menyoroti sejumlah risiko lain, termasuk volatilitas akibat arus dana asing dan perubahan suku bunga.
Namun begitu, tren dominasi kepemilikan domestik di saham perbankan berpotensi berlanjut hingga ada kepastian terkait keputusan dan evaluasi dari MSCI. Mengingat, saham perbankan Indonesia cukup besar dalam indeks global tersebut.
Abida bilang selama ketidakpastian masih ada, investor asing cenderung melakukan penyesuaian portofolio dan ruangnya diisi investor domestik.
“Pergeseran ini bisa membuat pergerakan harga lebih stabil karena investor lokal cenderung berorientasi jangka panjang, meskipun potensi lonjakan harga bisa lebih terbatas tanpa arus dana asing yang signifikan,” ujar Abida.
Dalam konteks strategi, Hendra bilang BBCA secara teknikal dan fundamental masih menarik untuk speculative buy dengan target Rp 7.700, memanfaatkan kekuatan laba dan konsistensi kinerja. BMRI layak trading buy dengan target Rp 5.600 karena sensitivitasnya terhadap perbaikan kredit korporasi dan proyek pemerintah. Sementara BBNI speculative buy dengan target Rp 5.000, mengandalkan perbaikan kualitas aset dan potensi re-rating valuasi.
Laba Bank BCA (BBCA) Tembus Rp 5 Triliun di Januari 2026, Begini Rekomendasi Analis
Dengan struktur kepemilikan yang makin domestik, Hendra menilai saham-saham perbankan pada dasarnya berpotensi menjadi jangkar IHSG di tengah dinamika global, sekaligus mencerminkan babak baru pasar modal Indonesia yang lebih ditopang oleh kekuatan dana dalam negeri.