
HargaPer.com – Murah &Terbaik JAKARTA. Kinerja pra-penjualan (pre-sales) sektor properti diperkirakan membaik pada 2026 seiring dengan rencana peluncuran proyek yang semakin agresif dari para pengembang.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim dalam riset 5 Februari 2026 memaparkan, sepanjang tahun 2025, total pra-penjualan agregat di luar penjualan lahan joint venture tercatat sebesar Rp 24 triliun, turun 7% secara tahunan, setelah mencatat kinerja kuat dengan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 13% pada periode tahun 2020–2024.
Permintaan hunian sepanjang 2025 masih tergolong lemah, terutama pada semester II-2025 yang mencatat penurunan 13% dibandingkan semester sebelumnya. Dari sisi segmen harga, permintaan cenderung mengarah ke segmen atas. Unit dengan harga di atas Rp 5 miliar mencatat pertumbuhan paling kuat dengan kenaikan 36% secara tahunan pada tahun 2026.
OJK Ungkap Akar Masalah Praktik Manipulasi Harga Saham Gorengan
Sebaliknya, segmen menengah dengan harga Rp 2 miliar–Rp 5 miliar turun 9% secara tahunan, sementara segmen di bawah Rp 2 miliar mengalami kontraksi terdalam sebesar 22% secara tahunan.
Di tengah kondisi pasar yang menantang, sejumlah pengembang berhasil mencatatkan kinerja yang lebih baik dari industri. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan pertumbuhan pra-penjualan pada tahun 2025 sebesar 27% secara tahunan, didorong oleh permintaan yang kuat di township Serpong serta keberhasilan peluncuran klaster premium.
Sementara PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatat pertumbuhan 3% secara tahunan, ditopang oleh penjualan lahan, meski pra-penjualan inti (di luar joint venture) turun 13% secara tahunan. Pra penjualan Ciputra Development (CTRA) mencatat kinerja di bawah ekspektasi dengan penurunan pra-penjualan 14% yoy akibat minimnya peluncuran proyek baru.
Pakuwon Jati (PWON) juga mengalami penurunan pra-penjualan sebesar 16% yoy, sejalan dengan melemahnya penjualan residensial, meskipun penjualan kondominium terbantu oleh peluncuran menara baru di Kota Kasablanka.
Memasuki tahun 2026, momentum pra-penjualan menurut Kevin diperkirakan akan meningkat, didukung oleh pipeline peluncuran proyek yang solid. BSDE misalnya berencana meluncurkan dua proyek baru, yakni Nava Park 2 dan Kota Wisata Ecovia.
CTRA tengah mempersiapkan peluncuran Citra Homes Halim di Jakarta Timur serta Citra Bukit Golf di Sentul. PWON menonjol dengan rencana ekspansi jangka panjang hingga 2030 dengan total belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar Rp 20 triliun.
BEI Suspensi Saham ELPI Dua Kali! Manajemen Buka Suara
SMRA juga diproyeksikan memperoleh manfaat dari township andalannya di Serpong, serta percepatan pengembangan township terbarunya di Tangerang. Peluncuran proyek-proyek ini diyakini akan memperkuat posisi para pengembang utama dalam menghadapi pasar hunian yang masih menantang, sekaligus membuka peluang perbaikan pra-penjualan pada 2026.
Dari sisi valuasi, sektor properti Indonesia saat ini diperdagangkan pada level terendah di kawasan. “Rasio price-to-earnings (P/E) tercatat sebesar 7,4x dan price-to-book (P/B) sebesar 0,6x, meskipun sektor ini mampu menghasilkan return on equity (ROE) yang solid dan mempertahankan tingkat leverage terendah di antara negara pembanding,” papar Kevin dalam riset.
Thailand dan Filipina menjadi pembanding terdekat dengan PER masing-masing di kisaran 7,8–8,2 kali dan PBV 0,7x–0,8x, sementara valuasi sektor properti di Malaysia, Singapura, dan Vietnam tercatat jauh lebih tinggi.
Indonesia juga menawarkan imbal hasil dividen yang menarik di kisaran 2%–4% dengan dividend payout ratio (DPR) 10%–30%, meski masih di bawah Thailand yang mencatat yield lebih tinggi sebesar 4%–9% berkat kebijakan DPR yang lebih agresif. Selain itu, saham-saham properti Indonesia saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 80%–90% terhadap nilai aset bersih yang disesuaikan (RNAV), mencerminkan valuasi sektor yang sangat undervalued.
Dengan valuasi yang murah, yield yang menarik, serta prospek pemulihan pra-penjualan pada 2026, pandangan terhadap sektor properti tetap positif. PWON menjadi pilihan utama (top pick) berkat basis pendapatan berulang yang solid, imbal hasil menarik, dan valuasi yang relatif murah.
Karena itu, Kevin memberi rekomendasi buy pada empat saham properti pilihannya yakni BSDE, PWON, CTRA dan SMRA. Adapun target BSDE dipasang di harga Rp 1.050 per saham, PWON ditargetkan di Rp 580, CTRA di Rp 1.300 dan SMRA ditargetkan di harga Rp 640 per saham.
OJK, BEI, KSEI Akan Bertemu MSCI Rabu (11/2), Ini Agenda Utamanya