
JAKARTA, KOMPAS.com – Operator jaringan restoran cepat saji KFC dan Pizza Hut di India, Sapphire Foods India dan Devyani International, mengumumkan rencana penggabungan usaha (merger) senilai 934 juta dollar AS atau setara Rp 15,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.711 per dollar AS.
Mengutip The Economic Times, Jumat (2/1/2026), Sapphire Foods India Limited akan bergabung ke dalam Devyani International Limited, yang juga mengelola jaringan quick service restaurant (QSR) di India.
Dalam pernyataan resmi pada Kamis (1/1/2026), perusahaan menyebut bahwa kesepakatan merger dilakukan di tengah tekanan yang dihadapi industri restoran cepat saji di India.
Baca juga: Demi Efisiensi, KFC dan Pizza Hut di India Merger
Tekanan tersebut berasal dari perlambatan penjualan di gerai sejenis (same-store sales) serta menyempitnya margin keuntungan, seiring konsumen mulai menahan pengeluaran untuk makan di luar maupun layanan pesan antar akibat tingginya biaya hidup.
Dalam skema transaksi, Devyani akan menerbitkan 177 saham untuk setiap 100 saham Sapphire Foods. Selain itu, perusahaan afiliasi Devyani, Arctic International, akan mengakuisisi sekitar 18,5 persen saham disetor Sapphire Foods dari para pemegang saham pengendali. Arctic juga memiliki opsi untuk mengalihkan kepemilikan saham tersebut kepada investor keuangan yang disepakati bersama.
Rencana merger ini masih menunggu persetujuan dari berbagai otoritas, termasuk bursa efek, Competition Commission of India (CCI), National Company Law Tribunal (NCLT), serta persetujuan pemegang saham dan kreditur kedua perusahaan. Proses perolehan seluruh izin tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 12 hingga 15 bulan hingga merger resmi berlaku efektif.
Sapphire Foods dan Devyani International merupakan mitra waralaba Yum Brands dan saat ini mengoperasikan lebih dari 3.000 gerai di India maupun luar negeri, termasuk restoran KFC dan Pizza Hut dengan konsep dine-in.
Keduanya bersaing langsung dengan operator jaringan McDonald’s dan Domino’s Pizza di India, yakni Westlife Foodworld dan Jubilant Foodworks.
Baca juga: Pizza Hut Bakal Tutup 68 Restoran di Inggris, 1.200 Pekerja Terancam PHK
Dalam keterbukaan informasi kepada bursa, perusahaan menyatakan bahwa setelah merger rampung, Devyani International akan menjadi salah satu operator QSR terbesar di India. Penggabungan ini dinilai akan memperluas skala usaha sekaligus membuka peluang percepatan pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas.
Ketua Non-Eksekutif Devyani International, Ravi Jaipuria, menyebut konsolidasi ini sebagai tonggak penting dalam perjalanan pertumbuhan perusahaan. Menurutnya, merger akan membuat Devyani memegang hak waralaba KFC dan Pizza Hut di seluruh wilayah India, sekaligus memperkuat kehadiran internasional, khususnya di Sri Lanka, yang melengkapi operasi luar negeri yang telah dimiliki.
“Setelah transaksi rampung, Devyani International akan menjadi salah satu operator restoran cepat saji terbesar di India dengan menggabungkan operasional kedua perusahaan, serta memposisikan entitas hasil merger untuk memasuki fase pertumbuhan, skala, dan profitabilitas yang lebih cepat,” ujar Ravi.
Pasar merespons positif rencana merger tersebut. Berdasarkan laporan Reuters, saham Devyani International sempat melonjak hingga 8,3 persen setelah pengumuman merger. Pada perdagangan terakhir, saham Devyani tercatat menguat 2,8 persen ke level 151,39 rupee.
Sementara itu, saham Sapphire Foods melemah sekitar 3 persen ke level 254,25 rupee, sedangkan saham Jubilant Foodworks turun tipis 0,2 persen ke posisi 552,20 rupee.
Analis JP Morgan menilai merger ini sebagai langkah strategis yang positif karena dapat menyederhanakan struktur bisnis, membuka peluang penghematan biaya yang signifikan, serta mempercepat pengambilan keputusan. Dengan demikian, Devyani dinilai dapat bersaing lebih efektif dengan para pesaing maupun platform pesan-antar makanan.
Merger berlangsung di tengah tekanan yang masih membayangi industri restoran cepat saji India. Pada kuartal yang berakhir September 2025, baik Devyani maupun Sapphire tercatat membukukan kerugian, seiring kenaikan biaya operasional, perlambatan penjualan, dan tekanan margin keuntungan.
Emkay Global memperkirakan bisnis gabungan tersebut berpotensi mencatatkan pendapatan dan laba operasional 50-60 persen lebih tinggi dibandingkan level saat ini, dengan skala dan laju pertumbuhan yang mendekati Jubilant Foodworks. Namun demikian, margin keuntungan diperkirakan masih relatif lebih rendah dalam jangka pendek.
Analis Jefferies menambahkan bahwa rasio merger yang ditetapkan relatif sejalan dengan harga penutupan saham kedua perusahaan pada 1 Januari, sehingga tidak memicu penyesuaian harga yang signifikan akibat kesepakatan tersebut.